Detik-detik terakhir gw ke IKEA sebelumnya (sebelum minggu lalu), gw malah terpukau dengan tulisan di pintu WCnya..

Setelah gw pikir-pikir (saat itu), emang “it tells…..” lebih masuk kalo ditafsirkan “anda akan menemukan…..”…

Walopun terjemahan tensesnya jadi berbeda, maknanya tetep sama!

Tidak semua bahasa di dunia, kata kerjanya mengandung aliran waktu terjadinya (atau bahasa Inggrisnya tenses)..

Bahasa Inggris dan bahasa Arab memiliki tenses dan gender…

Bahasa Yunani pun punya, tapi baik tenses maupun gendernya berbeda dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab…

Bahkan konon, bahasa Yunani (jaman perjanjian baru) adalah bahasa yang paling ngejelimet!

Bahkan saat ditranslasikan ke bahasa Inggris, cukup banyak kata-kata (dan tenses) yang sebenernya tidak bisa dialihbahasakan…

Dalam bahasa Indonesia disebut “serapan”, contoh ‘smash’, yang tidak bisa dialihbahasakan, ga seperti ‘upload’ (unggah), ‘download’ (unduh), bahkan ‘gadget’ (gawai dalam bahasa Indonesianya)..

Bahasa Ibrani kuno ga punya huruf vokal dan tenses… (Tensesnya lebih ke ‘perfect’ dan ‘imperfect’)

Bahkan bahasa Aramaic berbeda dengan bahasa Ibrani walopun huruf-hurufnya sama! (Ya bahasa Indonesia sama bahasa Inggris juga sama-sama huruf latin)

Bahasa Arab jaman Rasulullah SAW tidak memiliki titik dan harkat (penanda vokal)…

Jadi, huruf ba, ta, tsa, akan ditulis sama, tanpa harkat…

Barulah jaman (khalifah) Sayyidin Umar ra dibubuhi titik dan harkat…

Karena sama seperti bahasa Ibrani kuno, bahasa Arab jaman Rasulullah SAW adalah bahasa lisan..

Karena itu, jaman Rasulullah SAW buta huruf tidaklah masalah, karena orang jaman itu menekankan hafalan ketimbang tulisan…

Sama seperti Torah (pentateukh) yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui lisan, dan diketahui baru ditulis sekitar tahun 1000 SM (jaman Daud-Sulaiman)..

Dalam hal kitab suci, menurut gw, tugas Tuhan (tugas dalam perspektif manusia), selain haeus mencari orang yang tepat menyebarkan FirmanNya, juga harus mencari bahasa yang tepat yang tidak lekang oleh waktu, kompleks, tapi dari masa ke masa tidak mengalami perubahan makna (seperti yang terjadi pada bahasa Inggris)!

Dan memang seharusnya kitab suci itu selalu dibaca (dan “diturunkan”) dalam bahasa aslinya!

View on Path