#FezaMengutip bacaan sebelum tidur by @hotradero di beritagar.id

image

#cymera

source: https://beritagar.id/artikel/telatah/emas-amerika-obsesi-tiongkok

Emas Amerika, obsesi Tiongkok

Oleh : Poltak Hotradero 07:00 WIB – Sabtu , 16 Januari 2016

Disebut meijin, yang dalam bahasa Mandarin aslinya berarti “Emas Amerika” alias dolar Amerika Serikat (AS). Namun lebih dari sekadar uang, meijin adalah obsesi pencapaian kemajuan ekonomi.

Itulah kesan yang sedemikian mendalam, bahkan setelah pada 1971 sejak Presiden Nixon tak lagi menyetarakan dolar AS dengan emas pada ukuran pasti.

Obsesi atas meijin-lah yang mendorong modernisasi ekonomi Tiongkok. Dalam biografi Deng Xiaoping disebutkan, pada era 1970-an Tiongkok sempat hanya memiliki cadangan devisa USD167 juta. Sedemikian kecil untuk negara yang sedemikian besar.

Sebagai pembanding, pada sekitar 1975 Pertamina berutang USD10,5 miliar atau hampir sepertiga ekonomi Indonesia. Utang tersebut gagal dibayar dan nyaris menenggelamkan perekonomian Indonesia saat itu.

Dari titik berangkat yang sedemikian kecil, muncul cita-cita sederhana. Dalam sebuah pertemuan Deng Xiaoping pernah berkata: “Bayangkan kamerad sekalian, bila suatu saat nanti negeri kita bisa memiliki cadangan devisa USD10 miliar, akan banyak sekali yang dapat kita kerjakan.”

Skala yang tak terbayangkan bagi Tiongkok pada akhir 1970-an.

Hal yang membuat Tiongkok berbeda dari Indonesia bukan semata pada skala impian dan skala bencana keuangan; namun cara memenuhi obsesi atas meijin itu. Bagi Tiongkok, obsesi itu dipenuhi lewat berdagang.

Deng Xiaoping pun membuka beberapa zona ekonomi khusus ramah investasi dan memperlancar perdagangan. Bukan sesuatu yang unik, lantaran sekadar meniru Hong Kong dan Taiwan.

Dari zona ekonomi khusus inilah barang berhamburan ke seluruh dunia dan dari arah sebaliknya uang berdatangan masuk ke Tiongkok. Sebagian dari uang ini ditukarkan menjadi Renminbi (yang artinya “uang rakyat”) pada nilai tukar tertentu. Selebihnya membentuk cadangan devisa Tiongkok setelah dikurangi ongkos impor.

Proses perburuan meijin terus berlanjut. Pada akhir 1980 cadangan devisa Tiongkok hanya senilai USD2,5 miliar. Angka ini bertumbuh mendekati USD30 miliar pada awal 1990. Pada awal milenium baru, angkanya melesat jadi USD165 miliar. Saat Deng wafat pada 1997, impiannya atas cadangan devisa Tiongkok telah terlampaui 14 kali lipat.

Skala cadangan devisa Tiongkok pun mencapai lompatan kuantum pasca Tiongkok menjadi anggota organisasi perdagangan dunia, WTO (World Trade Organization). Saat 2001 berakhir, cadangan devisa Tiongkok berada pada USD212 miliar.

Hanya dibutuhkan waktu lima tahun hingga angkanya mencapai USD1 triliun. Lalu pada Agustus 2009, tercapai ukuran 10 kali lipat dari posisi awal, saat Tiongkok mulai menjadi anggota WTO.

Obsesi Tiongkok atas cadangan devisa mencapai puncaknya pada bulan Juni 2014. Saat itu, angkanya sudah mencapai USD3,7 triliun. Lalu muncul kesadaran bahwa hal ini perlu berakhir.

Penumpukan cadangan devisa besar-besaran pada dasarnya adalah “subsidi” atas belanja pemerintah Amerika sebagai pengutang terbesar di dunia, sekaligus penyerahan diri tersandera inflasi negeri Paman Sam.

Tiongkok pun mengubah kiblat ekonominya ke arah konsumsi ketimbang ekspor, dan berhenti menambah cadangan devisa. Mereka mulai menggunakannya untuk menetralisir efek negatif utang luar negeri swasta Tiongkok yang mencapai sekitar USD1 triliun.

Pada awal 2016, terbetik angka USD513 miliar volume penurunan cadangan devisa Tiongkok sepanjang 2015. Sebagian dipicu larinya USD843 miliar modal ke luar negeri. Namun cadangan devisa Tiongkok masih berada di atas USD3 triliun, meski masih akan tergerus.

Impian Deng Xiaoping yang ingin punya devisa USD10 miliar 45 tahun lalu, kini menjadi terlihat sedemikian kecil.